kpiaku.tk

Karya yang baru masuk

Aduh belum ada karya yang baru ni, makannya tmen-temen buat dong, biar rame nih blog.

Karya lainnya

Tutur Cinta

Sahabat Aku Cinta

Membosan kan Tapi Dibutuhka (Poetry Part 3)

Pertempuran Hati (bukan soal cinta koq)

No Bad Day

Parunk & Women On Street

Seloki Air Untuk Seekor Paus

Poetry (part 1 & 2)

Cara mengirim karya mu

Ingin karya mu mejeng disini dan diliat banyak orang..? gimana caranya..? untuk tau jawabannya klik disini

Seloki Air Untuk Seekor Paus

(cermai journal)

Sore ini kami 15 orang normal berada di basecamp Linggar Jati menunggu beberapa orang dari Bandung, sambil bersiap-siap untuk melakukan sesuatu yang.. ya.. sedikit diatas normal, ya.. kita lihat saja diakhir cerita, menurut kalian apakah kami masih normal. Didepan kami ada gundukan tanah setinggi 3100mdpl. Yang akan kami coba lakukan adalah mencoba melintasinya dari ujung sini ke ujung lainnya. Setelah 2 orang dari Bandung datang, kami memulai kegiatan ini dengan diawali dengan doa. Perjalanan dimulai dengan menyusuri pinggiran ladang, hingga akhirnya terhenti pada tumpukan ubi yang baru dipanen, dengan serta merta watak kleptomania menjerat pikiran. Kami mulai menjarah beberapa buah untuk bekal.

Terus berjalan hingga malam menjelang…, di pos 2 kami terhenti sejenak mengisi pundi-pundi air, 1 orang/ jerigen itulah takaran hidup kami. 1x17orang=17jerigen, namun keadaan memaksakan takaran hidup hanya dalam 5 jerigen+beberapa liter botol air mineral, apa boleh dikata sudah sejauh ini untuk menyerah kepada keadaan… show must go on… Lama berjalan menyusuri malam, arah kami adalah tempat bernama Kondang Amis. disana kami akan menghabiskan 2/3 malam untuk membiarkan kaki kami untuk beristirahat.

Pagi harinya kami kembali malakukan perjalanan, kembali meluruskan niat, dan kembali menyiksa kaki kami demi niat tadi. Dalam perjalanan ini semuanya terasa seperti tanjakan setan, mungkin memang sudah nasib kami yang berani-berani melawan keadaan. Tapi bukankah energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan, bukankah mereka hanya bisa berubah…, so.. semua pengorbanan pasti akan berbuah, entah buahnya tercecer dan tak terasa kita telah menikmatinya atau buah itu terkumpul dalam satu keranjang dan membuat kita terpana pada saat menikmatinya. Kiranya perjalanan ini lebih menyerupai pernyataan kedua tadi, keranjang buahnya ada di puncak sana dan kami akan menuju kepadanya.

Keadaan sangat kering disini, ditambah dengan sedikitnya persediaan air semua menjadi resep lengkap untuk menciptakan sebuah bencana dehidrasi. Kami seperti seekor paus yang mencoba menaiki gunung, dan untuk segala kepuasan, pencapaian, dan pembuktian diatas sana, kita rela menjadi paus yang gila itu. Untuk menghadapi keadaan yang menggila ini, butuh usaha yang ekstra gila pula, termasuk menakar hidup dalam seloki air. Karena persediaan yang terbatas, masing-masing orang hanya mendapat jatah seloki air pada setiap break atau perhentian, itu sih.. aturannya, pada kenyataan ada oknum-oknum yang curang tidak malu pada keadaan dengan mengkorupsi jatah minum temannya. Namun… seloki air untuk seekor paus, kurang gila apa diri ini…

Perjalanan naik memang yang paling memakan waktu, sekarang sudah sore dan kembali kami akan bermalam di Sangga Buana. Ada perempuan dalam rombongan kami, dan kami tak mau memaksakan diri dan terjebak situasi yang tak bisa ditangani. Jadi disinilah kami, menghabiskan malam dengan membakar ubi (marshmallow-nya Indonesia), ubi ini adalah hasil modus, seperti halnya kue tape yang membuat saya diare, dan juga beberapa logistik makanan yg lain. (n/b:k lo g tw mksd kata ‘modus’ bs ditny lngsng k yg ikut). Dalam perjalanan ini kata ‘sabar’ mewakili arti yang sebenarnya, tidak hanya ucapan “orang sabar di sayang Tuhan”, tetapi ya.. itulah sabar, keadaan dimana kita sudah tidak mampu merubah keadaan, hanya bisa bertahan sambil berharap Tuhan memberikan kekuatan untuk menghadapi semua ini. Dan pada masa-masa kritis ini kita akan jauh lebih mengenal Tuhan, dan atas segala keakraban itu, Tuhan dengan senang hati akan membantu kita dalam masa-masa sulit ini. Mengapa ini tidak terjadi di kehidupan sehari-hari….?

Paginya kembali kami melanjutkan perjalanan. Setelah banyak dan banyak-banyak lagi berkorban, akhirnya keranjang buah kami ada didepan mata. Sebuah pencapaian, kepuasan, dan pembuktian diri melawan segala keadaan ini, dan saat kami menggapainya, alangkah kagetnya melihat begitu banyak buah kepuasan yang kami dapatkan. kami menikmati dalam-dalam perasaan ini sejenak, sambil menahan napas yang masih terengah-engah, tunggu… sepertinya ada yang lupa.., hey…!! kami berada di ujung menara dunia…

Semuanya terlihat sangat kecil dari sini, laut Jawa membentang didepan sana. Tidak ada nikmat selama naik tadi… mengapa? Karena seperti analogi keranjang buah tadi, nikmatnya terkumpul disini. Kemewahan hidup yang tercecer dan kita nikmati tanpa sadar hanya ada di kehidupan sehari-hari. Bukannya sok filosofis, tapi taukah kalian…! sesekali kita butuh kejutan. ya… seperti kejutan sekeranjang buah tadi, ketika kita menikmati karunia Tuhan yang diturunkannya tiap hari, mungkin kita tidak akan menyadarinya dan lupa bersyukur, karena karunia itu turun dalam eceran sebutir anggur dijalan kehidupan ini. Namun lain halnya jika menemukan sekeranjang anggur dijalan hidup yang singkat ini, pasti kita tidak henti-hentinya berterimakasih. Singkatnya.., sesekali kita dapat menahan eceran kemewahan hidup dan mengumpulkannya dalam satu keranjang grosir, agar kita dapat melihat dalam keranjang tersebut betapa besar karunia Tuhan yang selama ini Ia turunkan…

Sebenarnya akhir cerita ini ada disana dipuncak tadi, lalu apakah kami tidak turun..? Tentu kami turun, bagaimana tulisan ini dibuat jika kami tetap diatas sana. So…mana cerita turunnya? Cerita turun sepertinya antiklimaks dan oleh karena itu kami malas menceritakannya, makannya disetiap film hanya ada cerita naik, sampai dipuncak, sehabis itu sang tokoh utama langsung ada di rumah, dan kemudian cerita pun selesai. Bagaimana masih memaksa untuk tahu ceritanya…? Oke..ok..Baiklah kalau kalian memaksa untuk tahu, rasakan sendiri malesnya, ini dia ceritanya;

Setelah sampai puncak, kami turun ke Goa Walet untuk mengambil tetesan air dimulut goa. Mulai dari Goa Walet kami akan melakukan perjalan turun dengan berlari, percayalah dengan keadaan seperti ini kau tidak akan mau lama-lama lagi disini. kami lari sambil menyusuri jalan, dalam perjalanan turun yang ada hanya bunyi gdebuk.. uh..ah..sakit… ternyata kami terjatuh, lari lagi awas akar..!! gdebuk..uh.. jatuh lagi, lari lagi.. awas akar…!! Eit loncat…! kami berhasil melewatinya, awas cabang diatas…!, karena loncat kini giliran ransel dan careel tersangkut di cabang, terpelanting, dan tebak apa yang terjadi? Ya.., kami terjatuh lagi. Lari dan lari lagi, awas ada akar dan cabang.. !! set..set..tap..tap.. uh lolos juga, stop..!! jalurnya putus, loncat..!! sat..sat.. zap…whoosah.. sedikit lompatan yang indah dan akhirnya selamat, kami mendarat dengan posisi muka mencium tanah… kenapa ada yang aneh…? Tidak.. ini cuma mencium tanah kok, tidak ada yang perlu di khawatirkan, tidak..tidak.., ayolah.. ini hanya posisi kepala dibawah dan kaki diatas itu saja.., ayolah apa yang kalian permasalahkan…?, tapi…tunggu posisi ini sepertinnya agak aneh ya.., tunggu.. saya periksa sebentar.. du..du..duru..du..du, Oke, baiklah kami akui … kami terjatuh lagi…

Tiba di pos 5 kami break istirahat sejenak untuk minum seloki tutup botol air dan kemudian berlari lagi, kejadian seperti diatas terus berulang sampai 5 kali, karena memang ada 5 pos yang harus kami lalui, sebelum akhirnya kami sampai di basecamp Apuy. Setibanya di basecamp kami melapor dan langsung makan, bersih-bersih, kemudian naik pick-up sayur ke terminal. Bagian terakhir ini (pick-up sayur) merupakan moment favorit saya, karena kembali seperti yang pernah saya tulis di A Latter From Cigamea: “kembali angin perjalanan meng-gerepe-i tubuhku dan menciptakan rasa yang menentramkan, rasa ini adalah rasa kebebasan dari beban, dan rasa ini membuat hidup seperti berjalan tanpa konsekuensi”.

Sampai terminal ternyata bus ke Jakarta baru akan datang jam 4 pagi, sekarang jam 8.. terpaksa kami memperpanjang jam kunjungan kami disini. Kami membuka lapak matras, seleeping bag, dan tidur-tiduran di emperan toko, memesan makanan, dan yang pasti membuka forum remi, poker, che q, tapi tidak ada cangkulan yaa… Sampai akhrinya bus kami tiba pukul 4.. kami naik teratur. Itulah saat-saat akhir kami di pengasingan dan sekarang kami akan kembali ke peradaban….. back to civilization.. ya that its.. the end of this story.

Akhirnya Happily ever after….after all…

Author; Chief Robote

Dan Taukah kalian…! mengapa ku sangat menyukai kegiatan ini, karena disetiap tekanan dan himpitan yang diberikannya, tidak lain tidak bukan adalah untuk menunjukkan pria atau manusia seperti apa kita. Karena sungguh dengan segala tekanan tadi, kita tidak dapat berbohong, atau lebih tepatnya tidak diberi kesempatan untuk berbohong, yang ada hanya bagaimana caranya agar tetap bernapas.

kita tidak perlu berakting diantara sesama, percuma.., Keadaan menjelaskan semuanya, disaat kritis ini semua akan memperlihatkan jati dirinya. Sehingga akhirnya kita tahu siapa kita dan orang-orang di sekitar kita, dan dengan begitu kita tahu cara menghadapinya. karena sudah tahu dan sama-sama tahu, semua memegang kartu As-nya… maka dengan sendirinya terciptalah suatu keakraban yang jauh lebih menyenangkan tanpa kemunafikan.

ANAK-ANAK KPI A ANGKATAN 2006 PUBLISH A ANAK KPI A BLOG WWW.KPIAKU.WORDPRESS.COM CONTRIBUTED BY ABDUL ROCHMAN, ANDRI RATIH, FAHDI FAHLEVI, FITRIA RAMADHANI, RICHA MUTMAINAH, AND SOFIAWATI DESIGNER BY KHARISMA DHIMAS SYUHADA EDITED BY KINTAN PANDU JATI AND MUHAMMAD RAGIL INDRATOMO DOCUMENTATED BY AHMAD FAUZI PROMOTED BY FARUK KHALIL GIBRAN

1 Response to ""

-Rupert & Ebert-
It’s Amazing.. Two Thumbs UP..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

December 2016
M T W T F S S
« Aug    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Kategori

Top Clicks

  • None

Recent Comments

Blog Stats

  • 19,453 hits
%d bloggers like this: