kpiaku.tk

A Letter From Cigamea

(Cigamea journal)

Cigamea, 8 Juli 2008

Di kaki Gunung Bunder, mengalir banyak air yang berhilir pada curug-curug didaerah ini, salah satu curug yang menjadi hilir dari aliran in adalah curug Cigamea. Air adalah elemen kehidupan yang dapat menarik kehidupan itu sendiri. Itulah yang terjadi pada kehidupan laskar KPI A, anak-anak ini datang dengan satu komando “lepaskan pikiran kusut akibat UAS…!!”. Sebenarnya ada banyak alasan mengapa anak-anak ini memilih tempat ini, disamping alasan sentimentil tentang air diatas. Pertama lokasinya yang dekat dan budgetnya yang murah, kedua cheaper, closeness, ketiga low cost and nearest, ………. Dan pada akhirnya hanya satu inti alasan utama murah dan dekat he..he…

Berangkat dari kampus pukul 14.00, sebenarnya kami telah terlambat 1 jam dari jadwal yang direncanakan yakni pukul 13.00. Dengan menggunakan angkot Parung carteran hasil negosiasi ketua OC, kami melakukan perjalanan ini. Sebenarnya saya curiga dengan para supir ini, mungkin mereka jebolan WRC atau NASCAR, dan mungkin seperti “TAXI” film Perancis itu, angkot ini sudah dibenamkan turbocharger, LSD, intercooler, NOS, atau tetek bengek teknologi balap lainnya mengingat performa sang supir dan kendaraannya yang saya hanya bisa mewakilanya dengan kata “wuuh…”.

Sebelumnya, rombongan laskar ini harus singgah terlebih dahulu dirumah Ismail “Maink” Marzuki, dialah guide sekaligus OC dari hajatan besar ini. Perjalanan menuju Curug Cigamea ini berlangsung tanpa kendala berarti, hanya beberapa masalah kecil seperti uang jatah preman di perjalanan dan rokok supir saja yang sedikit menganggu. Perjalanan diparung cukup membuat BT, lubang dijalan seperti kawah bekas meteor jatuh membuat mobil berguncang sehingga perut mual bagai mesin ketangkasan yang ingin jackpot. Namun keadaan ini tak berlangsung lama, selepas parung jalanan mulus, diiringi ilalang dikiri-kanan jalan dan hembusan angin yang membelai dan mengusap seraya berkata “mari kuhapus semua duka dimuka kalian….”.

Memasuki wilayah pegunungan iringan-iringan laskar ini sangat cepat dengan gap antara mobil yang sangat rapat, bagaikan Civic dari geng Max Torreto dalam “The Fast N’ Fourius” yang siap membajak truk kontainer berisi DVD. Dan akhirnya pada pukul 17.00 tibalah kami di penginapan, rumah dengan bata merah tanpa acian dengan terasnya yang terbuat dari kayu disusun seperti panggung pertunjukkan, Yah… lumayan lah… untuk 400.000 dalam satu malam. Sebagian Anak-anak langsung segera sararehan melepas pegal, sebagian lagi langsung bermain bola, dan beberapa akhwat ke dapur untuk memepersiapkan makan malam.

Selepas sholat Maghrib anak-anak melakukan sedikit pengajian membaca Yasin dan ayat terakhir dari surat Al-Baqoroh. Anak-anak KPI A sangat fasih membaca Qur’an, terutama mereka jebolan Pesantren atau MAN, mereka membaca bagai vokalis band black metal atau Nelly yang sedang nge‘rap’ tanpa jeda dan seperti sangat hafal. Namun Sebagian lainnya yang tidak mampu mengimbangi hanya bisa lipsing, membaca latinnya, ataupun mengikuti namun hanya bersuara pada akhir-akhir ayat “…wallahu ala sai’in qodir, … la’allakum tat takun”.

Selepas mengaji para anggota laskar KPI A melakukan santap malam, menu malam ini adalah katering ayam rica-rica, saya tidak tahu sebenarnya apa yang membuatnya menjadi rica-rica apakah karena sambalnya, atau karena yang memesannya adalah teman saya yang bernama Richa… hex, terlepas dari itu menu malam ini cukup mengenyangkan. Seusai makan malam kamipun beranjak ke acara selanjutnya, anak-anak mengadakan pemilihan KM baru, KM adalah jabatan dalam kelas kami yang setara dengan presiden SBY, khususnya dalam hal tanggungjawab yang diembannya dan dalam hal repot mengurusi rakyat, yang membedakan hanyalah; jika SBY repot-repot mengurusi rakyat digaji sementara KM tidak digaji malah terkadang mengeluarkan gajinya bagi anak buahnya he….he….

Sistem pemilihanya menggunakan pemilihan langsung, yah …langsung tunjuk aja siapa orang yang ingin di calonkan…. ,lha wong calonnya ada didepan mata… Setalah ditanya satu persatu akhirnya muncul beberapa kandidat dengan perolehan dukungan terbesar; diantaranya adalah Richa ‘Ica’ Mutmainah dengan 21 suara, Muhammad Ragil ‘Jimmy’ Indratomo 13 suara, Kharisma Dhimas ‘Robot’ Syuhada 5 suara, dan Ismail ‘Maink’ Marzuki 3 suara, tapi memang iklim Democrazy dalam tubuh KPI A sangatlah kuat lebih demokrat ketimbang Amerika Serikat, sampai-sampai kandidat dengan jumlah suara 5 dapat memenangkan pemilihan. Akhirnya diputuskan ketua baru adalah saudara Kharisma Dhimas Syuhada, orang biasa yang biasa-biasa saja ini terpilih dibawah todongan argumentasi anak-anak. Penyerahan jabatan secara simbolis dilakukan dengan menyerahkan tongkat kepemimpinan yang berupa spidol oleh ketua demisioner yang lengser ke prabon, yakni saudara Pandu, maklum salah satu tugas KM adalah menyediakan spidol untuk dosen.

Setelah selesai pemilihan KM baru, acara selanjutnya adalah sesi pelacur (pelabuhan curhat .red). dalam sesi ini individu-individu yang bernaung dalam KPI A mengutarakan unek-uneknya, harapan, serta masalah-masalah yang menurut mereka harus diketahui dan harus segera dibereskan. Diantara isu-isu yang muncul ke permukaan adalah masalah klan, geng, faksi, atau apalah sebutan yang mengacu pada kelompok-kelompok di dalam tubuh KPI A itu sendiri. Isu ini cukup serius namun jangan di tanggapi serius juga, intinya masing-masing individu memiliki kecendrungan dan mindset-nya sendiri, kesamaan atas faktor tadilah yang dengan sendirinya akan membuat masing-masing individu nyaman dengan individu lainnya yang satu jenis pikiran dengannya. Namun pada akhirnya kita tetap harus memberikan hati kita bagi keseluruhan kelas karena kita terikat dalam satu ikatan yang dimana tiap individu akan bergantung dan dijadikan tempat bergantung bagi semua individu yang ada dalam ikatan tadi. Husnudzon-nya adalah tiap individu dalam kelas pasti ingin berkumpul bersama namun apakah satu kost-an dapat menampung satu kelas…? maka itu terjadi pembagian-pembagian he…he….

Seteleh pelacur berlalu mata-mata mulai sayu, pelacur memang menguras banyak tenaga yang ikut serta bersamanya…he…he…, apalagi waktu sudah menunjukkan pukul 23.00, akhwat sudah mulai ngantuk, akhirnya pelacur disudahi karena pelacur itu akan mangkal lagi dimasing-masing kamar anak-anak KPI A, dan menjajakan curhatan-curhatan lainnya yang lebih pribadi. Sementara akhwat bersiap tidur, kaum adam terus melanjutkan acaranya yakni main kartu remi, dan menonton Kualifikasi Piala Dunia antara Brazil dan Argentina, dan dilanjutkan dengan pertandingan EURO Jerman melawan Portugal. Karena bergadang, subuh hari para akhi sulit membangkitkan diri dari kantuk yang akut. Setelah tempat tidur diobrak-abrik, dan mempersilahkan udara dingin yang mengetuk pintu masuk menusuk rusuk, barulah kaum adam bangkit, namun bukan untuk sholat melainkan pindah ke kamar dan melajutkan tidur, dan mengulur waktu sholat subuh menjadi jam 6 he…he….

Setelah bangun pagi kami langsung belingsutan mencari garesan atau kopi, terutama anak laki yang baginya rokok dan kopi adalah sahabat sejati. Calon Ibu-ibu KPI A begitu memahami kaum bapak yang sedang asik main kartu, mereka membuatkan kopi dan pisang goreng, budaya patriarki dengan segala kebaikkan dan keburukannya masih kental di KPI A dan itu mempengaruhi segala urusan, dari pemilihan KM sampai ke hal kecil seperti menyediakan kopi. Menu pagi hari ini adalah nasi goreng racikan para calon ibu dari KPI A. yah… rasanya cukup enak lah… untuk ukuran amateure home made. Kami makan seperti anak-anak Ethiopia yang mendapat bantuan UNHCR, apalagi rekan kami Adit yang katanya; “doll kalo makan kayak gini gw inget kampung gw terus…” ( dalam hati; dia si emang kampungnya di sono).

Setelah usai breakfast kami sekelas bersiap-siap dengan handuk dan perangkat basah-basahan kami untuk berangkat menuju Curug Cigamea. Kebetulan lokasi curug hanya beberapa meter dari penginapan, sehingga bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Akhirnya sampailah kami di curug, memang kurang alami sih…! dibanding beberapa curug yang pernah saya datangi, namun feelnya beda aja, karena kami rekan-rekan seperjuangan kelas ada disini, sehingga perasaan kebersamaannya terasa sangat…. Anak laki sudah tak sabar dan segera menceburkan diri, sementara anak perempuan masih sedikit jaim dan hanya sekedar mandi kucing, namun akhirnya bergabung untuk mandi basah bersama-sama…hua ha…ha…ha.

Setelah lama berbasah-basahan ria, memanjati air terjun, dan melompat dari tebing…, para laskar KPI A menyudahi permainannya, berhubung hari Jumat, dan anak laki-laki harus melaksanakan Sholat Jumat. Kami kembali kepenginapan dengan rute yang sama, sejuknya angin pegunungan yang meng-gerepe-i tubuh membuat saya merinding, tanpa sadar celana parachute saya sudah kering oleh angin yang membawa pergi bersamanya air yang membasahi celana saya dan segala stres selama UAS. Sampai di penginapan anak-anak berebut kamar mandi, celakanya air habis dan sebagian anak laki-laki belum semuanya mandi, jadi sewaktu Sholat Jumat sebagian anak laki meringkup mengunci diri di kamar menunggu samapai waktu Sholat Jumat selesai heh…

Sophie ibunya anak-anak, telah menyiapkan makan siang, menunya adalah mie aceh, mie godog, atau mie apalah pokoknya mienya dicampur sama sayur…. Kembali anak-anak makan sangat lahap bagaikan anak-anak di kamp-kamp pengungsian di Somalia. Namun pemandangan orang kelaparan hanya awalannya saja pada akhirnya seperti yang sudah-sudah nasi selalu sisa, dan kembali saya harus mengumpulkannya dan membuangnya ke kolam ikan. Sisa waktu siang itu kami habiskan dengan main kartu, nonton TV, tidur-tiduran, atau memperbincangkan masalah kehidupan.

Waktu-waktu dan momen-momen kebersamaan kami di daerah itu akhirnya habis juga, jika tidak mau diekstradisi oleh pemilik villa, maka sesuai jadwal kami harus angkat kaki dari daerah itu pada pukul 4 sore. Mesin-mesin balap angkot carteran kami mulai dipanaskan, dan kami para laskar kembali akan menempuh perjalanan yang berat dengan sopir-sopir yang nekat, oleh karena itu sebelumnya kami berdoa bersama dan banyak-banyak berdoa lagi dalam perjalanan. Akhirnya perjalanan pulang kami dimulai, iring-iringan mobil kami sangat cepat dan rapat menyusuri jalan-jalan di punggung gunung, sampai akhirnya laju mobil terhenti pada satu tanjakan setan. Dua mobil diantaranya berhasil melewatinya, namun ada satu mobil tertahan segan jalan menahan beban. Entah mengapa turbocharger dan racikan khusus close ratio yang membuat mobil itu sangat garang di trek lurus tidak kuat menopang beban mobil ditanjakan. Mungkin penumpangnya yang sering makan bakso sehingga gendut-gendut dan membebebani kerja mobil, atau para penumpangnya kebanyakan gossip dan ngibul, sehingga terlalu banyak catatan kejahatan yang dibawa malaikat Atit dan menambah berat beban yang harus dibawa mobil he..he….

Selepas tanjakan setan tidak ada halangan berarti dalam perjalanan pulang, kembali angin perjalanan meng-gerepe-i tubuhku dan menciptakan rasa yang menentramkan, rasa yang sama seperti dalam perjalanan pulang dari Gunung Slamet dengan mobil pick up sayur, rasa yang sama juga dengan hembusan angin kereta ekonomi Jakarta-Purwokerto, rasa ini adalah rasa kebebasan dari beban, dan rasa ini membuat hidup seperti berjalan tanpa konsekuensi. Rasa ini berada pada setiap anggota KPI A, yakni rasa yang dirasakan oleh individu yang bebas dalam suatu ikatan kekeluargaan kelas.

Sampai di daerah Parung kami harus mengahadapi lubang-lubang jalanan yang menganga sebesar kawah, kembali lubang-lubang itu membuat perut saya seperti blender yang meramu milk shake dari makan siang saya dengan kacang atom dan fanta yang sedang saya nikmati. Menjelang garis finish perjalanan, tepatnya di pasar Ciputat sopir mulai saling balap, gap antara masing-masing mobil hanya 0,0000000000000000001 detik. Sangking ugal-ugalannya sopir, hampir disetiap berpapasan dengan orang kami selalu menerima umpatan khas kebun binatang atau kata-kata khas selangkangan. Namun pada akhirnya atas berkat rahmat Allah Tuhan yang maha esa, iring-iringan anggota laskar KPI A dapat tiba dengan selamat, pucat walafiat, di kampus tercinta UIN Jakarta. Dan akhirnya dapat kutulis surat ini sebagai pengingat akan momen-momen kebersamaan, juga sebagai penyemangat dalam menjaga kebersamaan ini.

From Cigamea with love…..

 

Author ; Chief Robote

 

Sejarah berjalan dengan keputusan-keputusan yang dibuat untuk mengakomodasi keadaan masa sekarang, tetapi akibatnya tidak dapat diduga untuk masa depan., so berhati-hatilah dengan keputusan yang U buat sekarang……

 

ANAK-ANAK KPI A ANGKATAN 2006 PUBLISH A ANAK KPI A BLOG WWW.KPIAKU.WORDPRESS.COM CONTRIBUTED BY ABDUL ROCHMAN, ANDRI RATIH, FAHDI FAHLEVI, FITRIA RAMADHANI, RICHA MUTMAINAH, AND SOFIAWATI DESIGNER BY KHARISMA DHIMAS SYUHADA EDITED BY KINTAN PANDU JATI AND MUHAMMAD RAGIL INDRATOMO DOCUMENTATED BY AHMAD FAUZI PROMOTED BY FARUK KHALIL GIBRAN

 

3 Responses to ""

cuy… kurang rame nich musti diramein lagi ok! tp dah lmayan lah…

9a nyngKA ju9a yakZ…..
“rob0t” y9 “kaKU” biSa se “LueZ” ntU ber-ret0riKa….
hE……
v .^_^. v
jdi pn9n kesn0 La9e neEh . . .

BRAVO KPI A !!!!

beh….ky na pantes tuh d jadiin buku!!!!!!!!!!!!! hahahahahahahahahaha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

December 2016
M T W T F S S
« Aug    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Kategori

Top Clicks

  • None

Recent Comments

Blog Stats

  • 19,453 hits
%d bloggers like this: