kpiaku.tk

Based on true tugas e-mail Mr. Beki

robota_digz@yahoo.com

-Media Tabloidization-


Tabloidization of media merujuk pada; usaha-usaha peralihan media baik dari isi, bentuk serta formatnya dari kodrat awalnya ke arah bentuk-bentuk tabloidisasi. Sebagaimana kita tahu, tabloid seperti umumnya tabloid yang pernah kita lihat atau baca, sebagian besar setidaknya mempunyai karakteristik seperti ini: berisi bacaan yang ringan; kaya akan ilustrasi serta layout yang menarik; dan bertujuan untuk memberikan informasi sekaligus hiburan dengan harga murah.

Adanya perubahan format surat kabar tradisional atau media lainnya, yang dipicu oleh keinginan pembaca serta tuntutan pengiklan yang memicu perubahan itu. Tabloidisasi juga dapat dipandang sebagai fenomena sosial yang menghasut sekaligus menyimbolkan perubahan konstruksi dari masyarakat (Esser: 1999). Istilah tabloidisasi sendiri diperkenalkan oleh Frank Esser dalam tulisannya yang berjudul Tabloidization of News: A Comparative Analysis of Anglo-American and German Press Journalism. Perubahan-perubahan tadi bisa terjadi dalam bentuk tampilan, perlakuan, serta isi dari media-media masa sekarang yang cenderung mengarah pada bentuk tabloid.

Mengenai masalah tabloidization of media ini, Saya melihat bahwa media-media indonesia telah mengarah pada tren ini. Gejala ini dapat dilihat dari dalam segi konten atau isi. Tabloidisasi ini dapat terjadi pada segala bentuk media, baik cetak maupun elektronik. Salah satu contoh tabloidisasi dalam konten atau isi dari media elektronik adalah maraknya tayangan infotainment atau talkshow yang mengedepankan rumor, gosip dan kehidupan personal public figures yang diangkat hanya karena itu adalah skandal besar.

Ironisnya gejala-gejala ini menjalar ke media-media yang seharusnya dan biasanya consern-nya pada hal-hal yang serius atau hal yang lebih nyata dampaknya di Masyarakat. Seperti yang terjadi pada kasus korupsi yang dilakukan oleh Al-Amin Nasution –media mengaitkannya dengan hubungannya dengan penyanyi dangdut Kristina, bukan ke hal yang lebih penting yakni korupsi itu sendiri. Dalam kasus lain eksekusi mati terdakwa bom Bali, ekspose berlebihan dari sisi humanistik, dan emosi telah mengesampingkan nilai fakta dari berita yang sebenarnya. Inilah salah satu bentuk gejala tabloidisasi, karena fakta diatas menunjukkan adanya usaha untuk menarik pembeli lewat keindahan cerita, trivia, serta usaha lainnya untuk menarik pemirsa.

Media mulai mengesampingkan aspek kualitas berita dan beralih pada pasar. Isu yang diangkat seringkali tidak ada relevansinya dengan keadaan masyarakat yang sedang bermasalah. Media seakan memberi obat bius berupa berita tadi yang mengakibatkan masayarakat lupa dan terlena bahwa mereka punya sesuatu yang lebih penting untuk dihadapi. Tabloidisasi dalam media ini, dengan mudah dapat kita temukan pada surat kabar sejenis Pos Kota dan Lampu Merah di Indonesia atau The Sun dan Daily Mirror di Inggris. Surat kabar dalam kategori ini hanya memiliki tujuan: menarik pembaca sebanyak mungkin, menjual cetakannya sebanyak mungkin, dan menarik pengiklan sebanyak mungkin.

Selain dalam bentuk tampilan serta perlakuan gejala tabloidisasi juga terlihat dalam segi tampilan; yakni ukuran surat kabar yang semakin mengecil seperti tabloid serta layout yang cukup ‘eye catching’ dan ‘handy’ seperti dalam Koran Tempo. Kemudian surat kabar yang memasukkan iklan pada halaman pertamanya, bandingkan dengan umumnya koran terdahulu dimana tidak menaruh iklan di halaman pertama untuk menekankan pentingnya berita yang mereka keluarkan.

Pada media elektronik gejala Tabloidisasi ini terlihat pada penyajian acara-acara berita dan diskusi-diskusi serius yang menjadi lebih non-formal. Hal ini bisa dilihat dari penggunaan gaya bahasa serta kostum yang lebih santai, set yang lebih hangat, terlebih siaran dilakukan di lokasi yang sangat non-formal; (Liputan 6 di Senayan City & Apa Kabar Indonesia di Wisma Nusantara).

Quote; tulisan ini baru berasal dari pendapat satu kepala dan sekedar iseng berbagi…, tidak etis rasanya dan bahkan menjadi beban moral bagi yang nulis kalau dijadikan referensi mentah-mentah (ilmunya baru dikit ni…). Mungkin anda membutuhkan second opinion, atau baratus opini pembanding lainnya agar kerjaan yang anda buat tentang artikel ini menjadi obyektif. O Y sebagai Quality Control; berpartisipasilah dengan memberikan sumbangan kritik di kolom comment buat instropeksi yang nulis,… see y..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

December 2016
M T W T F S S
« Aug    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Kategori

Top Clicks

  • None

Recent Comments

Blog Stats

  • 19,453 hits
%d bloggers like this: