kpiaku.tk

Artikel lainnya

Artikel Tentang Perkembangan Teknologi Media Komunikasi

Torsten Veblen; Technological Determinism Jean Baudrillard; Hyper Reality & Efek Simulacra Marshal McLuhan: Global Village & The Media Is The Massage Raymond Williams; Cultural Materialism Introduction – A Second Media Age

Cara mengirim Artikel mu

Ingin berbagi ilmu……? Artikel mu bisa mejeng disini dan diliat banyak orang..? gimana caranya..? untuk tau jawabannya klik disini

Introduction – A Second Media Age

Intro

Orang-orang yang hidup didalam masyarakat informasi tidak hanya menggunakan informasi dan teknologi informasi, terlebih lagi hampir disetiap aktifvitas mereka selalu diliputi oleh teknologi ini. Teknologi informasi menjadi begitu berarti dalam keseharian mereka. Orang sekarang, terjebak mencari informasi sebagai komoditi tanpa jelas relasinya dengan kebutuhan hidup mereka yang sesungguhnya. kecenderungan berkurangnya kemampuan individu-individu dalam menemukan relasi bermakna di antara informasi yang jumlahnya sudah terlampau banyak, sehingga upaya menetapkan makna bukan saja sulit melainkan bahkan hampir tidak mungkin. makna apa yang bisa ditemukannya di antara timbunan informasi tersebut selain hanya setumpukan data yang menunggu diinterpretasikan.

Kegagalan atau ketidakmampuan menginter-pretasikan, karena keterbatasan waktu atau sebab-sebab lain, berarti mengubah tumpukan data tersebut menjadi onggokan-onggokan sampah informasi. Zaman ini adalah zaman ketika dunia sedang mengalami apa yang belakangan ini sering disebut information overload. Salah satu implikasinya, ketika jumlah kanal dan frekwensi suara yang ada telah melebihi kesanggupan kita untuk mengelolanya. Ledakan penggunaan teknologi informasi telah mengganti orientasi kita akan suatu hubungan. Hubungan sebelum dan sesudah adanya teknologi informasi sangat jauh berubah; kontak face-to-face berubah menjadi interface (webcam), gerak gesture tubuh berubah menjadi ‘emoticon’ ketika mengirim email, dan hubungan sosial langsung beralih ke situs jejaring sosial (friedster, face book, my space..dll).

Comunication In Cyber Culture

Teknologi merubah kondisi masyarakat kota dan kesehariannya. Komunikasi tidak terjadi dalam kevakuman, realita masyarakat kota dan sekitarnya, dapat dilihat melalui kesehariaanya melakukan komunikasi. Contohnya dapat dilihat pada hubungan antara tingginya tingkat penggunaan teknolgi informasi pada masyarakat kota dengan melonjaknya angka masyarakat yang hidup sendiri. Relasi dan Interaksi mereka dengan sesama telah digantikan oleh kehadiran media (khususnya internet). Transformasi media yang menekankan ke pasifan penikmatnya kearah media yang lebih interaktif, menandai munculnya ‘second media age’.

Terminologi tersebut mengacu tidak saja pada perkembangan evolutif teknologi media dari satu zaman ke zaman berikutnya, melainkan juga mendenotasikan dimensi-dimensi kualitatif dari relasi antara manusia dengan informasi, media, dan dengan mesin (komputer). Zaman media kedua, dalam kalimat lain, juga bisa ditafsirkan sebagai sebuah babakan historis baru yang memperlihatkan berbagai perubahan penting dalam konteks konfigurasi sosial masyarakatnya.

The Oversteatment Of Linguistic Perspectives On Media

Strukturalisme yang telah dirintis oleh Ferdinand de Saussure. Kata “struktur” yang menjadi kata dasar dari strukturalisme dapat dengan mudah kita pahami dengan memakai semiotika (semiotics) atau semiologi (semiology) yang dikembangkan secara brilian oleh Saussure. Dalam semiotika ada beberapa aturan pokok yang mengatur sistem tanda bahasa, sehingga dari sinilah kemudian lahir strukturalisme.

Sebuah tanda khususnya tanda kebahasaan, merupakan entitas psikologis yang bersisi dua atau berdwimuka, terdiri dari unsur penanda (signifier) dan petanda (signified). Kedua elemen tanda-tanda itu sungguh-sungguh menyatu dan saling tergantung satu sama lain. Kombinasi dari keduanya inilah yang kemudian menghasilkan tanda (sign).Relasi antara penanda dengan petanda terjadi begitu saja dan arbitrer. Karena itu kita perlu mengetahui kode-kode yang menyatakan kepada kita apa yang dimaknakan oleh tanda-tanda. Kode (code) adalah satu sitem dari konvensi-konvensi yang memungkinkan kepada seseorang untuk mendeteksi arti dalam tanda-tanda karena hubungan

Dalam kaitannya dengan media komunikasi, adalah hubungan antara bentuk pesan dan isi pesan, begitu juga antara ritual komunikasi dengan proses penyampaian komunikasi itu sendiri. Media terkait juga dengan “Apa maksud yang ingin ditampilkan dari sebuah gambar?” “Apakah yang diwakili oleh sebuah interaksi?” Itu semua merujuk pada model komunikasi serta hubungan apa yang diharapkan dari pengirim, penerima, dengan pesan yang ditampilkan.

Dalam second media age desentralisasi informasi adalah kelebihan utama yang ditawarkan. Tidak seperti dalam first media age dimana informasi hanya dikeluarkan beberapa organisasi yang memiliki kuasa atas informasi, second media age menjajikan pada setiap penggunanya kesempatan memproduksi informasi. Jadi informasi yang tadinya terpusat pada organisasi-organisasi tadi, kini bisa diperoleh dari siapapun.

Penonton TV kabel dan digital menjadi lebih tertarik pada hal yang pribadi dan interaktif. Dalam kaitannya dengan second media age, telah terciptanya masyarakat yang interaktif interactive society’ yang berbasis pada internet (digital networking) yang terhubung dalam berbagai macam mode komunikasi. Media komunikasi non-electronik mungkin masih ada namun mulai kehilangan statusnya.

Secara kontras terlihat kebanyakan pengguna teknologi interaktif dari second media age menjadi lebih terpersonalisasi dan lebih kreatif kemudian meninggalkan budaya bersama yang pasif. Second media age yang diwakili oleh Internet, menawarkan kebebasan demokrasi tanpa batas untuk menggunakan informasi, serta kemampuan untuk memproduksi informasi dari masing-masing individu yang bernaung dalam komunitas digital.

Secara singkat perbedaan first media age dengan second media age terlihat dalam hal berikut:

First Media Age

Second Media Age

Terpusat

Otonomi (desentralisasi)

Komunikasi satu arah

Komunikasi dua arah

Ada kontrol negara

Bebas dari kontrol negara

Bisa dijadikan sebagai alat suatu rezim untuk mengkotak-kotakan (stratifikasi) dan ketidakadilan

Demokratis; dijadikan sebagai fasilitas untuk semua masyarakat

Partisipasi penggunanya tidak terlihat dan terkotak-kotak dan diperlakukan secara umum

Partisipasi penggunanya terlihat dan kuat dan diperlakukan sebagai individu

Pengaruhnya bersifat umum

Pengaruhnya bersifat individual

Broadcast Medium And Network Medium – Problems With The Historical Typology

Internet berusaha untuk menjadi dominan atas jenis media lainnya. Perdebatan diantara first and second media age sangat terlihat dari kontrol dan interaksi yang dijanjikan oleh second media age. Pertama semua yang digembar-gemborkan second media age tentang interaksi yang lebih dalam sebuah media penyiaran ketimbang siaran itu sendiri sebenarnya berada dalam satu paket.

Semuanya diukur dari seberapa besar interaksi dalam sebuah media. sebenarnya antara kedua zaman first dan second media age seharusnya bisa saling menguatkan, masing-masing jenis media saling mem-butuhkan. Keterkaitan antara media lama and media baru dapat dilihat dalam beberapa situs internet yang tidak lain merupakan kepanjangan dari organisasi media yang sudah ada (media lama). Koran, Stasiun radio, dan televisi, memiliki situs sebagai kepanjangannya.

Kedua, second media age yang menjanjikan kebebasan, desentralisasi, dan interaksi, sebenarnya tidak bisa lepas dari faktor-faktor sejarahnya yakni; ekonomi, sosial, dan budaya. Internet tidak menjadi sangat mendominasi ketimbang jenis media lainnya. Berhembusnya Isu konvergensi, yakni tentang tergantinya media lama dengan media baru, adalah sesuatu yang berlebihan.

Banyak faktor lain yang mempengaruhi bentuk media yang akan digunakan ketimbang faktor media itu sendiri. Kita lihat bagaimana motif ekonomi mem-pengaruhi keterbatasan kecepatan akses internet akibat mahalnya kabel optik. Begitu juga adanya satelit yang tidak serta merta mengantikan fungsi kabel telekomunikasi trans-oceania.

Interaction VS Integration

Perdebatan antara kepasifan dan keaktifan, terhubung dan tidak terhubung merupakan isu yang dangkat tentang ke-interaktif-an. Interaksi merupakan sesuatu yang penting namun tidak lepas dari komunikasi yang ter-integrasi. Mayoritas ritual komunikasi yang kita lakukan tidak lepas dari konsep integrasi.

Pada second media age dimana interaksi menjadi hal yang penting, telah mengasampingkan integrasi. Kiranya hubungan langsung, face to face lebih menjanjikan integrasi ketimbang internet. Dalam internet dilihat bahwa gerak tubuh dan mimik muka telah tergantikan oleh emoticon. Namun dalam beberapa hal dan fungsi khususnya, komunikasi langsung tetap tidak tegantikan.

Akhirnya Latar belakang dominan dari hubungan menggunakan media yang dilakukan individu-individu yang terintegrasi, menjadi termediasi oleh adanya media kuhusunya internet. Dan akhirnya apakah komunikasi yang interaktif ataukah yang terintegrasi yang akan digunakan tergantung pada isi dan apa yang akan disampaikan.

Oleh | kharisma DHIMAS syuhada

106051001763 | KPI V A

ANAK-ANAK KPI A ANGKATAN 2006 PUBLISH A ANAK KPI A BLOG WWW.KPIAKU.WORDPRESS.COM CONTRIBUTED BY ABDUL ROCHMAN, ANDRI RATIH, FAHDI FAHLEVI, FITRIA RAMADHANI, RICHA MUTMAINAH, AND SOFIAWATI DESIGNER BY KHARISMA DHIMAS SYUHADA EDITED BY KINTAN PANDU JATI AND MUHAMMAD RAGIL INDRATOMO DOCUMENTATED BY AHMAD FAUZI PROMOTED BY FARUK KHALIL GIBRAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

December 2016
M T W T F S S
« Aug    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Kategori

Top Clicks

  • None

Recent Comments

Blog Stats

  • 19,453 hits
%d bloggers like this: