kpiaku.tk

Artikel lainnya

Artikel Tentang Perkembangan Teknologi Media Komunikasi

Torsten Veblen; Technological Determinism Jean Baudrillard; Hyper Reality & Efek Simulacra Marshal McLuhan: Global Village & The Media Is The Massage Raymond Williams; Cultural Materialism Introduction – A Second Media Age

Cara mengirim Artikel mu

Ingin berbagi ilmu……? Artikel mu bisa mejeng disini dan diliat banyak orang..? gimana caranya..? untuk tau jawabannya klik disini

Jean Baudrillard; Hyper Reality & Efek Simulacra

Pemikiran utama Baudrillard adalah teori tentang hyper-reality dan simulation. Konsep ini sepenuhnya mengacu pada kondisi realitas budaya yang virtual ataupun artifisial di dalam era komunikasi massa dan konsumsi massa. Realitas-realitas itu mengungkung “kita” dengan berbagai bentuk simulasi (penggambaran dengan peniruan). Simulasi itulah yang mencitrakan sebuah realitas yang pada hakikatnya tidak senyata realitas yang sesungguhnya. Realitas yang “tidak sesungguhnya” tetapi dicitrakan sebagai realitas yang mendeterminasi kesadaran “kita” itulah yang disebut dengan realitas semu (hyper-reality).

Realitas ini tampil melalui media-media yang menjadi “kiblat” utama masyarakat massa. Melalui media realitas-realitas dikonstruk dan ditampilkan dengan simulators, dan pada gilirannya menggugus menjadi gugusan-gugusan imaji yang “menuntun” manusia modern pada kesadaran yang ditampilkan oleh simulator-simulator tersebut, inilah yang disebut gugusan simulacra. Simulator-simulator itu antara lain muncul dalam bentuk iklan, film, cybernetics, kuis, sinetron dan lain-lain yang tampil dalam TV atau media lain yang mengobral kepuasan fashion, food dan funs.

Berkembangnya teknologi informasi seperti sekarang ini, yang diklaim sebagai wujud nyata dari modernitas, telah memposisikan realitas-realitas menjadi sebatas imaji yang dihasilkan oleh proses simulasi. Media, sekali lagi, telah menciptakan makna pesan yang dipublikasikan sebagai sesuatu yang terputus dari asal-usulnya, sehingga tidak salah kalau Baudrillard menyatakan bahwa konstruk budaya dewasa ini mengikuti pola-pola simulasi, yakni penciptaan model-model nyata yang tanpa asal-usul (realitas), inilah yang disebutnya hyper-reality.

Pada lapis pemahaman ini ada keterkaitan erat antara modernitas dan kapitalisme. Pola-pola perilaku modernitas berjalan paralel dengan proses ekonomi-politik (produksi, distribusi, dan konsumsi) yang merupakan “ritual” ideologi kapitalisme. Meskipun pandangan yang sedang didiskusikan ini juga konstruksi image yang dibangun oleh kapitalisme, tetapi sekali lagi, “manusia modern” tidak akan dapat terlepas oleh kepentingan-kepentingan kapitalisme. Di dalam proses ini produk kapitalisme melebur dalam imaji-imaji yang dikonstruk oleh media, terutama TV. Hadirnya TV dengan berbagai iklan terus mengakomodasi kepentingan-kepentingan produksi yang akan dialirkan ke konsumen melalui pencitraan-pencitraan.

Produk-produk tersebut dicitrakan melalui simuasi-simulasi media dengan menciptakan model-model iklan yang akan menuntun kesadaran masyarakat massa (consumer) untuk mengikutinya. Pencitraan itu sangat menonjolkan model-model idola untuk menyedot kesadaran massa, sehingga artis-artis atau selebriti menjadi faktor utama proses simulasi. Peristiwa anugerah piala Oscar, misalnya, mampu menyedot jutaan orang di dunia untuk melihat model rambut, model pakaian, gaya jalan para bintang Hollywood itu untuk dijadikan model panutan. Tidak bisa dipungkiri di era 1990-an, model rambut “Demi Moore” telah menjadi panutan gaya rambut modern hanya melalui film Ghost yang ditayangkan TV, bukan bertemu langsung.

Bagi para kritikus modernitas termasuk Baudrillard, TV tidak hanya menawarkan produk, tetapi sarat dengan muatan ideologi. Simulasi-simulasi yang dibangun TV mampu mendoktrin pemirsa tanpa disadarinya dengan nilai-nilai yang dibawa oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Baudrillard sendiri menyatakan bahwa TV merupakan faktor terpenting dalam proses massifikasi masyarakat konsumen melalui pencitraan- pencitraan itu, maka lebih lanjut imaji-imaji yang ditampilkan itu akan meluruhkan jati diri manusia sebagai individu, ia “telanjang” dari kemanusiaannya, ia berubah menjadi massa baik kesadaran atau perilakunya.

Baudrillard menelaah lebih jauh bagaimana pencitraan itu menciptakan semakin jauhnya makna dari realitas. Simulasi yang telah menciptakan gugusan simulacrum serta merta menguasai kesadaran sehingga perilakunya diatur sepenuhnya oleh dorongan-dorongan simulasi itu. Di sinilah Baudrillard banyak menggunakan semiotika Ferdinand de Saussure, terutama dalam menghubungkan arbitrasi antara komoditi dan nilai tukar (harga) dengan sistem penanda (signifier) dan tinanda (signified). Strukturasi ini bila dikaitkan dengan teori awal Baudrillard tentang sistem obyek dan tanda, yang banyak diintrodusir dalam The System of Object, komoditas dan nilai tukar memberikan estetika tersendiri terhadap prestise sosial konsumen.

Komoditas menciptakan strukturasi barang dan jasa dalam susunan hirarkhis yang memberikan “imaji” dalam membentuk prestise sosial dan posisi seseorang dalam sistem tersebut. Misalnya mobil, dengan nilai tukar pada jenis masing-masing menunjukkan posisi orang yang terlibat dalam struktur itu. BMW, Mercy, Roll Royce, Royal Saloon, dan Volvo akan memberi prestise dan hirarkhi elit terhadap konsumennya, sementara Suzuki Carry 1000, Espass, Mitsubishi T120ss dan lain sebagainya memberikan hirarkhi estetis “kelas rendah” bagi status sosial pengendaranya. Makna dan fungsi mobil sebagai alat transportasi dan kenyamanan berkendaraan berubah menjadi fungsi atributif dan predikatif bagi pemiliknya.

Pencitraan-pencitraan terhadap komoditas itu membawa konsekuensi logis terhadap pembentukan karakter masyarakat massa yang serba tergantung pada “komunikasi massa” melalui media massa. Kaitan dengan hal ini Baudrillard melihat proses pencitraan-pencitraan komoditas itu telah diekskalasi oleh adanya media. Di dalam budaya massa itu, Baudrillard menunjukkan bagaimana proses transformasi nilai dari media ke dalam kesadaran masyarakat massa telah “memanjakan” kesadaran itu dalam “memperturutkan” keinginannya (desiré, “hawa nafsu”) untuk mengikuti ritual-ritual ekonomi-konsumtif. Kondisi psikologis ini mengantarkan pada pemujaan (fetishisme) terhadap idola yang dipresentasikan oleh media. Pada saat yang sama budaya ini menjebak masyarakatnya pada “silent majorities”.

Bagi Baudrillard proses ini meluruhkan segala struktur kelas ke dalam “massa” yang tidak ada kategori nilai selain nilai ekonomis. Dalam masyarakat seperti ini tidak ada lagi ikatan konvensional yang mempererat relasi antar individu, yang ada hanya ikatan semu yang hanya terbatas pada relasi ekonomis. Oleh karena itu satu-satunya “kiblat” adalah media, yang secara massif membentuk kesadaran individu-individu itu dalam ikatan massa.

Oleh | kharisma DHIMAS syuhada

106051001763 | KPI V A

ANAK-ANAK KPI A ANGKATAN 2006 PUBLISH A ANAK KPI A BLOG WWW.KPIAKU.WORDPRESS.COM CONTRIBUTED BY ABDUL ROCHMAN, ANDRI RATIH, FAHDI FAHLEVI, FITRIA RAMADHANI, RICHA MUTMAINAH, AND SOFIAWATI DESIGNER BY KHARISMA DHIMAS SYUHADA EDITED BY KINTAN PANDU JATI AND MUHAMMAD RAGIL INDRATOMO DOCUMENTATED BY AHMAD FAUZI PROMOTED BY FARUK KHALIL GIBRAN

1 Response to ""

nyolong dikit ya.,…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

December 2016
M T W T F S S
« Aug    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Kategori

Top Clicks

  • None

Recent Comments

Blog Stats

  • 19,453 hits
%d bloggers like this: